PROGRAM PEMBELAJARAN INDIVIDUAL (PPI)


Contoh Program Pembelajaran Individual (PPI) Keterampilan Vokasional untuk Anak Berkebutuhan Khusus (Tunagrahita)

Pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) membutuhkan pendekatan yang sangat personal dan disesuaikan dengan kemampuan unik setiap individu. Salah satu instrumen penting yang digunakan oleh guru Sekolah Luar Biasa (SLB) adalah Program Pembelajaran Individual (PPI).

Artikel ini membagikan contoh penerapan PPI Keterampilan Vokasional dan Kewirausahaan yang diterapkan di SLB Ganda Daya Ananda. Program ini dirancang khusus untuk siswa tunagrahita pada jenjang SMPLB dan SMALB dengan fokus pada kemandirian dan pembekalan keterampilan wirausaha sederhana.

Berikut adalah dua contoh program vokasional yang dikembangkan dalam PPI:

1. Pembuatan Camilan Bakso Goreng (Basreng) Sederhana (Jenjang SMALB Kelas X)

Program ini bertujuan untuk melatih siswa menghasilkan produk pangan lokal yang populer sekaligus mengajarkan konsep dasar keselamatan di dapur serta pengenalan nilai uang.

• Profil Awal Siswa: Siswa sudah mampu mengenali alat dapur umum (wajan, spatula) dan mengikuti instruksi verbal pendek. Namun, siswa masih lemah dalam koordinasi motorik halus saat mengiris, belum memahami urutan kerja mandiri, bahaya minyak panas, serta perhitungan harga jual.

• Tujuan Pembelajaran: Siswa mampu membuat dan mengemas camilan bakso goreng secara mandiri atau dengan bantuan minimal sebagai modal keterampilan wirausaha.

• Tahapan Pembelajaran (4 Pertemuan):

◦ Pertemuan 1: Pengenalan alat dan bahan menggunakan kartu gambar serta metode contoh (modeling).

◦ Pertemuan 2: Latihan motorik halus memotong bakso menjadi irisan tipis menggunakan pisau plastik yang aman dengan bantuan fisik (hand-over-hand).

◦ Pertemuan 3: Proses menggoreng dengan pengawasan penuh, menekankan jarak aman dari minyak panas dan api kompor.

◦ Pertemuan 4: Pencampuran bumbu, pengemasan ke dalam pouch, serta penempelan stiker produk.

• Elemen Kewirausahaan: Siswa diajak memberi nama produk (contoh: "Basreng Kress Class X"), berlatih menawarkan produk secara sederhana kepada lingkungan sekolah, dan mengenali uang pecahan Rp2.000 atau Rp5.000.

2. Pembuatan Gelang Manik-Manik Sederhana (Jenjang SMPLB Kelas VIII)

Program ini berfokus pada pengembangan motorik halus melalui aktivitas meronce seni kerajinan tangan, dikombinasikan dengan latihan konsentrasi.

• Profil Awal Siswa: Siswa dapat mengenali warna dasar dan memiliki minat pada kerajinan tangan. Hambatannya terletak pada koordinasi motorik halus saat memasukkan tali ke lubang manik-manik, rentang fokus yang singkat, dan belum memahami pola warna.

• Tujuan Pembelajaran: Siswa mampu membuat dan mengemas gelang manik-manik secara mandiri atau dengan bantuan minimal serta memahami konsep dasar penjualan produk yang menarik.

• Tahapan Pembelajaran (3 Pertemuan @ 35 Menit):

◦ Pertemuan 1: Pengenalan alat-bahan dan latihan dasar memasukkan manik-manik ke tali senar elastis menggunakan bantuan visual atau contoh.

◦ Pertemuan 2: Meronce dengan konsistensi pola warna berselang-seling (misal: merah-kuning) sesuai ukuran pergelangan tangan hingga selesai diikat.


◦ Pertemuan 3: Pengemasan produk ke dalam plastik klip/pouch, penempelan stiker merek, dan simulasi jual-beli (role-play).

• Elemen Kewirausahaan: Menghasilkan karya gelang layak pakai, memahami pentingnya kemasan yang rapi untuk menarik pembeli, serta melatih interaksi sosial saat transaksi menggunakan uang pecahan kecil.

Strategi Pendampingan dan Penilaian

Dalam pelaksanaan PPI ini, kunci keberhasilan terletak pada pemberian bantuan (prompting) yang diturunkan secara bertahap seiring meningkatnya kemandirian siswa, mulai dari bantuan fisik penuh (full physical), bantuan verbal (kata-kata arahan), bantuan visual, hingga akhirnya siswa bisa mencapai tahap mandiri.

Evaluasi dilakukan menggunakan lembar observasi yang mencatat tingkat kemandirian siswa pada setiap indikator keterampilan. Kolaborasi dan kemitraan dengan orang tua atau wali di rumah juga sangat diperlukan untuk melanjutkan latihan agar keterampilan yang telah dipelajari di sekolah dapat semakin kuat.

Melalui program pembelajaran yang terstruktur dan terindividualisasi seperti ini, anak berkebutuhan khusus mendapatkan ruang untuk berkembang, berkarya, dan menyiapkan masa depan mereka dengan lebih percaya diri.

Related

materi 2009836596029380107

Posting Komentar

emo-but-icon

TikTok

Follow us !

Youtube News

Trending

item